Entri Populer

Kamis, 30 September 2010

PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA TANAMAN KUBIS (Brassica oleracea)

BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Pada dasarnya teknologi PHT merupakan teknologi yang praktis, mudah dipelajari dan diterapkan oleh petani pada kondisi ekosistem yang sangat bervariasi antara lokasi tertentu. Mengingat adanya variasi ekosistem terebut, maka pemilihan dan penetapan teknologi PHT seyogyanya disesuaikan dengan kondisi dan sistem sosial dan ekonomi masyarakat setempat (spesifik lokasi). Teknologi pengendalian yang digunakan hendaknya diutamakan yang mendorong berfungsinya proses pengendalian alami yang mampu menekan populasi pada aras keseimbangan yang rendah. Oleh sebab itu teknologi pengendalian OPT yang dirancang petani seyogyanya mengacu pada prinsip pengendalian yang spesifik lokasi serta terpadu, yaitu Penerapan Pengendalian Hama Terpadu.
Kubis sebagai sayuran mempunyai peran penting untuk kesehatan manusia. Kubis banyak mengandung vitamin dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Sebagai sayuran, kubis mengandung serat yang dapat membantu pencernaan, menetralkan zat-zat asam, dan banyak manfaat lainnya.
Secara umum, semua jenis kubis mampu tumbuh dan berkembang pada berbagai jenis tanah. Namun demikian, kubis akan tumbuh optimum bila ditanam pada tanah yang kaya bahan organik. Kecuali itu, dalam hidupnya kubis memerlukan air yang cukup, tetapi tidak boleh berlebihan. Artinya tanaman kubis akan mati bila kekurangan atau kelebihan air.
Realita yang ada, tidak semua petani di sentra pertanaman kubis menanam kubis. Keengganan petani menanam kubis lebih dipicu alasan klasik, takut terserang hama penyakit. Padahal gangguan tersebut dapat diatasi jikalau petani rajin memperhatikan tanamannya. Dengan jalan demikian pencegahan dan pengendalian dapat segera dilakukan. Penanaman kubis secara bergiliran dengan tanaman lain juga dapat mengatasi kemungkinan munculnya hama penyakit.

Tujuan Penulisan

Untuk mengetahui penerapan Pengendalian Hama Terpadu pada Tanaman Kubis (Brassica oleraceae) di beberapa daerah di Sumatera Utara.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman
Dalam sistematika tumbuhan, tanaman kubis diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub-Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Ordo : Brassicales
Famili : Brassicaceae
Genus : Brassica
Spesies : Brassica oleracea
Semua kubis yang baru tumbuh umumnya memiliki hipokotil sepanjang 2 cm, berwarna merah. Kecuali itu kubis berkeping dua, berakar tunggang dan serabut. Daun pertama mempunyai tangkai yang lebih panjang daripada daun yang diatasnya. Daun membentuk roset. Apabila titik tumbuhnya mati dimakan ulat atau patah, akan tumbuh banyak tunas. Kalau pucuk tidak patah, batang tidak bisa bercabang.
Daun kubis bagian luar tertutup lapisan lilin dan tidak berbulu. Daun-daun bawah tumbuhnya tidak membengkok, dapat mencapai panjang sekitar 30 cm. daun-daun muda yang tumbuh berikutnya mulai membengkok menutupi daun-daun muda yang ada diatasnya. Makin lama daun muda yang bebrbentuk semakin banyak sehingga seakan-akan membentuk telur atau kepala (krop).
Bentuk krop bermacam-macam. Ada yang berbentuk bulat, bulat pipih, dan bulat meruncing. Ukuran garis tengah krop dapat mencapai lebih dari 20 cm.

B. Syarat Tumbuh
Iklim
Kubis akan tumbuh baik bila ditanam di daerah berhawa dingin seperti di Dieng dan Pengalengan. Temperatur optimum yang dikehendaki antara 15°-20 C. sedangkan kelembaban yang baik pada kisaran antara 60-90%. Kalau temperatur 25C, pertumbuhan akan terhambat.
Kubis menghisap air cukup banyak. Tanaman yang masih muda memerlukan air sebanyak 300cc/hari. Sedangkan kubis dewasa, memerlukan air sebanyak 400-500cc/hari. Agar tumbuh secara optimal, kubis memerlukan persentase kandungan air dari kapasitas lapangan 60-100% atau rata-rata lebih kurang 80%.

Tanah
Secara umum, kubis dapat tumbuh pada semua jenis tanah. Namun demikian, pertumbuhannya akan ideal bila ditanam pada tanah liat berpasir yang banyak mengandung bahan organik. Selama hidupnya, kubis memerlukan air yang cukup, tapi tidak boleh berlebihan.
Kubis tidak dapat tumbuh dengan baik di tanah yang sangat asam. Kubis yang ditanam pada tanah ber-pH 4,3, produksinya sangat rendah. Keasaman tanah optimum untuk pertumbuhan kubis antara 5,5-6,5. Pengapuran dengan kapur pertanian Dolomit (MgCO3, CaCO3) dapat menaikkan pH tanah dari asam menjadi agak asam atau netral. Pengapuran juga dapat dengan kapur bangunan (Kapur mati) atau CaOH2.

C. Budidaya Tanaman Kubis
Pengolahan Lahan
Pengolahan tanah dapat dilakukan dengan bajak atau cangkul. Tanah yang sudah dicangkul atau dibajak sebaiknya dibiarkan sekitar seminggu agar mendapat sinar matahari yang cukup. Sesudah itu tanah dicangkul untuk kedua kalinya dan diratakan, lalu dibuatkan bedengan. Banyak ukuran yang digunakan dalam pembuatan bedengan, tetapi yang penting adalah harus sesuai dengan ukuran lahan.
Persemaian
Benih disebar atau diatur dalam barisan dengan jarak 10 cm ditempat persemaian yang telah disediakan, baik yang terbuat dari kotak kayu maupun disiapkan di bedengan.
Penanaman
Setelah berumur sekitar 6 minggu di tempat persemaian, bibit sudah dapat ditanam. Pilihlah bibit yang penampilannya baik, lalu tanamlah dengan jarak tanam (50x50) cm dengan jarak antar barisan 60 cm.
Pemeliharaan
Penyiraman dilakukan setiap hari, tetapi tergantung dengan keadaan cuaca: hujan atau tidak. Apabila tanaman ditanam ada yang mati atau tampak pertumbuhannya kurang bagus, segeralah tanaman itu disulam. Penyulaman dilakukan paling lambat seminggu sesudah tanam agar diperoleh pertumbuhan tanaman yang serempak.
Pemupukan
Pemupukan pada tanaman kubis dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu sebelum tanam sebagai pupuk dasar, pada umur 2 minggu setelah tanam, dan 8 minggu setelah tanam. Banyaknya pupuk yang diberikan adalah 225 kg Urea, 500 kg DS dan 110 kg ZK setiap hektar.
Pemanenan
Umur panen tanaman kubis tergantung pada varietasnya, ada yang berumur genjah dan ada yang berumur dalam.

D. Pengendalian Hama Terpadu
PHT memadukan berbagai metode pengelolaan tanaman budidaya dalam perpaduan yang paling efektif dalam mencapai stabilitas produksi, dengan seminimal mungkin bagi manusia dan lingkungan.
Dengan keluarnya Undang-Undang No.12 Tahun 1992 tentang Budidaya Tanaman yang salah satu pasalnya menyatakan supaya mengendalikan OPT dengan cara Pengedalian Hama Terpadu (PHT). PHT meliputi empat prinsip dasar, yaitu:
1. Tanaman budidaya yang sehat
Sasaran pengelolaan agro-ekosistem adalah produktivitas tanaman budidaya. Pemilihan varietas, tanaman yang memperoleh cukup pemupukan, pengairan, penyiangan gulma dan disertai pengolahan tanah yang baik sebelum masa tanam adalah dasar bagi pencapaian hasil produksi yang tinggi. Budidaya yang sehat dan kuat bagian program PHT.
2. Melestarikan dan Mendayagunakan fungsi musuh alami
Kekuatan unsur-unsur alami sebenarnya mampu mengendalikan lebih dari 99% hama kebanyakan lahan agar tetap berada pada jumlah yang tidak merugikan. Tanpa disadari, sebenarnya semua petani bergantung pada kekuatan alami yang sudah tersedia di lahannya masing-masing. PHT secara sengaja mendayagunakan dan memperkuat peranan musuh alami yang menjadi jaminan pengendalian, serta memperkecil pemakaian pestisida berarti mendatangkan keuntungan ekonomis kesehatan dan lingkungan tidak tercemar.
3. Pemantauan Lahan Secara Mingguan
Masalah hama tidak timbul begitu saja. Masalah ini timbul karena kombinasi faktor-faktor lingkungan yang mendukung pertumbuhan populasi hama. Kondisi lingkungan atau ekosistem sangat penting artinya dalam kaitannya dengan timbulnya masalah ham. Dalam hal ini PHT menganjurkan pemantauan lahan secara mingguan oleh petani sendiri untuk mengkaji masalah hama yang timbul dari keadaan ekosistem lahan yang cenderung berubah dan terus berkembang.
Pengendalian Hama Terpadu membantu petani untuk mempelajari dan mempraktekkan keterampilan teknologi pengendalian hama.
4. Petani Menjadi Ahli PHT di Lahannya Sendiri
Pada dasarnya petani adalah penanggung jawab, pengelola dan penentu keputusan di lahannya sendiri. Petugas dan orang-orang lain merupakan nara sumber, pemberi informasi dan pemandu petani apabila diperlukan. Maka untuk itu petani dilatih untuk AHLI PHT dilahannya sendiri. Dengan keahliannya itu petani secara mandiri dan percaya diri mampu untuk melaksanakan dan menerapkan prinsip teknologi PHT di lahannya sendiri. Sebagai ahli PHT petani harus mampu menjadi pengamat, penganalisis ekosistem, pengambil keputusan pengendalian dan sebagai pelaksana teknologi pengendalian sesuai dengan prinsip-prinsip PHT.
Pengendalian Hama didefinisikan sebagai pemberantasan hama terapan yang mengkombinasikan pemberantasan hayati dengan pemberantasan kimiawi. Jadi juga belum termasuk didalamnya. Disini hanya menekankan pada dua taktik, namun definisi ini dianggap terlalu sempit sebab tidak mengakomodasikan taktik-taktik yang lain seperti mekanik atau fisik, teknik budidaya, hormon atau feromon dan sebagainya. Prinsip ekologi juga belum termasuk didalamnya. Oleh karena itu, definisinya diperluas yang mencakup prinsip-prinsip ekologi dan semua taktik-taktik yang mungkin dapat dipergunakan.
Pengertian pengendalian hama dengan memasukan konsep lingkungan, yaitu bahwa pengendalian hama adalah pengelolaan hama yaitu pendekatan yang komprehensif dalam pengendalian hama dengan menggunakan kombinasi berbagai cara untuk menurunkan status hama sampai tingkatan yang dapat ditoleransikan sementara kualitas lingkungan dapat terjaga dengan baik.





BAB III
PENERAPAN PENGENDALIAN HAMA TERPADU

Data Lapangan
Data lapangan diperoleh dari Dinas Pertanian UPT.Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura, dengan narasumber Pak Bukhari di bagian Subbid. Perlindungan Tanaman Hortikultura.
Hasil data memperlihatkan bahwa daerah yang berpotensi menjadi sentra penanaman kubis di Provinsi Sumatera Utara antara lain Simalungun, Karo, Dairi, Tapanuli Utara, dan Tapanuli Selatan, dengan total luas area tanam yaitu Lahan Kering seluas 98.585 ha, yang terdiri dari Pekarangan seluas 15.053 ha, Tegal/Kebun seluas 54.602 ha dan Ladang/Huma 28.930 ha. Berikut disertai data hasil produksi untuk komoditi kubis:
Luas Panen, Produksi dan Rata-Rata Produksi Sayur-Sayuran Menurut Jenis Tanaman Tahun 2008
Jenis Tanaman
Type of Plant Luas Panen Harvested Area
(Ha) Produksi
Production
(Ton) Rata-rata Produksi Yield Rate
(Kw/Ha)
(1) (2) (3) (4)

1. Bawang Merah/Shallots 1 238 12 071 97,50
2. Bawang Putih/Garlic 34 248 72,94
3. Bawang Daun/Leeks 1 969 18 678 94,86
4. Kentang/Potatoes 8 022 130 296 162,42
5. Kubis/Cabbage 7 780 207 640 266,89
6. Petsai/Sawi/Chinese Cabbage 5 410 77 147 137,10
7. Wortel/Carrots 1 788 38 733 216,63
8. Lobak/Chinese Radish 667 17 997 269,82
9. Kacang Merah/Red Beans 605 1 478 24,43
10. Kacang Panjang/Yard Long Beans 5 123 41 991 81,97
11. C a b e/Chili 15 911 136 415 85,74
12. T o m a t/Tomatoes 3 672 69 134 188,27
13. Terung/Egg Plant/Aubergin 3 682 34 391 93,40
14. Buncis/French Beans 3 559 40 977 115,14
15. Ketimun/Cucumber 3 271 45 267 138,39
16. Labu Siam/Chajota 271 3 356 123,84
17. Kangkung/Swamp Cabbage 2 211 11 232 50,80
18. B a y a m/Spinach 2 919 11 578 39,66
19. Kol Bunga/Flower Cabbage 1 181 22 871 193,66

Luas Panen Sayur-Sayuran Menurut JenisTanaman Tahun 2008
Jenis Tanaman
Type of Plant 2004 2005 2006 2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Bawang Merah/Shallots 1 339 1 074 1 081 1 204 1238
2. Bawang Putih/Garlic 999 335 167 88 34
3. Bawang Daun/Leeks 2 448 2 575 2 757 2 361 1969
4. Kentang/Potatoes 10 519 6 314 5 792 5 654 8022
5. Kubis/Cabbage 7 310 5 897 5 461 5 864 7780
6. Petsai/Sawi/Chinese Cabbage 5 513 5 653 5 506 5 346 5410
7. Wortel/Carrots 3 267 3 101 1 773 1 781 1788
8. Lobak/Chinese Radish 819 1 066 801 748 667
9. Kacang Merah/Red Beans 807 482 573 979 605
10. Kacang Panjang/Yard Long Beans 5 274 4 672 5 918 6 017 5 123
11. C a b e/Chili 15 054 2 884 14 628 13 229 15 911
12. T o m a t/Tomatoes 4 251 4 215 4 136 4 056 3 672
13. Terung/Egg Plant/Aubergin 3 966 3 439 3 794 4 246 3 682
14. Buncis/French Beans 3 953 3 461 2 758 3 298 3 559
15. Ketimun/Cucumber 3 300 2 939 3 964 3 989 3 271
16. Labu Siam/Chajota 114 114 128 378 271
17. Kangkung/Swamp Cabbage 2 529 1 760 1 857 2 450 2 211
18. B a y a m/Spinach 2 864 2 184 2 729 2 907 2 919
19. Kol Bunga/Flower Cabbage 2 192 2 177 2 052 1 106 1 181

Rata-Rata Produksi Sayur-Sayuran Menurut Jenis Tanaman Tahun 2008
Jenis Tanaman
Type of Plant 2004 2005 2006 2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Bawang Merah/Shallots 119,74 85,90 80,20 91,40 97,50
2. Bawang Putih/Garlic 181,76 95,50 62,00 72,20 72,94
3. Bawang Daun/Leeks 108,25 88,00 92,50 81,00 94,86
4. Kentang/Potatoes 191,69 166,60 169,70 160,30 162,42
5. Kubis/Cabbage 255,80 287,30 253,70 267,80 266,89
6. Petsai/Sawi/Chinese Cabbage 147,96 142,50 132,60 140,50 137,10
7. Wortel/Carrots 199,06 239,00 231,00 227,20 216,63
8. Lobak/Chinese Radish 323,89 264,60 297,90 280,00 269,82
9. Kacang Merah/Red Beans 60,17 40,40 398,00 39,00 24,43
10. Kacang Panjang/Yard Long Beans 68,38 92,10 75,00 77,80 81,97
11. C a b e/Chili 74,13 - 80,38 85,30 85,74
12. T o m a t/Tomatoes 204,27 20,60 213,40 189,10 188,27
13. Terung/Egg Plant/Aubergin 78,01 90,10 92,60 93,90 93,40
14. Buncis/French Beans 109,88 123,60 99,90 99,50 115,14
15. Ketimun/Cucumber 54,90 154,50 140,50 145,40 138,39
16. Labu Siam/Chajota 138,19 102,00 103,20 100,40 123,84
17. Kangkung/Swamp Cabbage 25,88 22,20 49,10 42,70 50,80
18. B a y a m/Spinach 26,86 145,00 33,00 31,10 39,66
19. Kol Bunga/Flower Cabbage 198,13 196,50 181,50 199,50 193,66

Produksi Sayur-Sayuran Menurut JenisTanaman Tahun 2008
Jenis Tanaman
Type of Plant 2004 2005 2006 2007 2008
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
1. Bawang Merah/Shallots 16 034 9 226 8 666 11 005 12 071
2. Bawang Putih/Garlic 18 158 3 200 1 036 635 248
3. Bawang Daun/Leeks 26 501 22 666 25 509 19 124 18 678
4. Kentang/Potatoes 201 635 105 209 98 267 90 634 130 296
5. Kubis/Cabbage 186 993 169 422 138 533 157 038 207 640
6. Petsai/Sawi/Chinese Cabbage 81 564 80 583 73 008 75 111 77 147
7. Wortel/Carrots 65 034 74 114 40 949 40 464 38 733
8. Lobak/Chinese Radish 26 526 28 206 23 858 20 944 17 997
9. Kacang Merah/Red Beans 4 856 1 947 2 278 3 818 1 478
10. Kacang Panjang/Yard Long Beans 36 064 43 019 44 386 46 812 41 991
11. C a b e/Chili 111 594 106 432 117 591 112 843 136 415
12. T o m a t/Tomatoes 86 838 86 829 88 275 76 699 69 134
13. Terung/Egg Plant/Aubergin 30 938 30 985 35 124 39 861 34 391
14. Buncis/French Beans 43 438 42 778 27 555 32 818 40 977
15. Ketimun/Cucumber 18 115 45 421 55 703 58 000 45 267
16. Labu Siam/Chajota 1 575 1 163 1 321 3 795 3 356
17. Kangkung/Swamp Cabbage 6 544 3 899 9 112 10 456 11 232
18. B a y a m/Spinach 7 693 3 169 8 996 9 042 11 578
19. Kol Bunga/Flower Cabbage 43 429 42 782 37 240 22 065 22 871

Pada komoditi Kubis ini terjadi luas tambah serangan Ulat Crops seluas 15,6 ha (ringan) yang terdapat di Kabupaten Simalungun 9,5 ha, Karo 11 ha, Dairi 0,5 ha.

Tabel Luas Tambah Serangan, Keadaan Serangan dan Luas Pengendalian Serangan OPT Tanaman Hortikultura di Propinsi Sumatera Utara.
Musim Tanam : 2010
Komoditi : Sayuran

OPT Luas tambah serangan Kum. Luas keadaan serangan Luas Pengendalian
Kubis
Ulat Crops
Ulat Daun R S B P J 15/08 R S B P J Pes Cl jmlh
15,6
21,0 0,0
0,0 0,0
0,0 0,0
0,0 15,6
21,0 171,5
110,7 178,0
180,3 0,0
0,0 0,0
0,0 0,0
0,0 178,0
180,3 311,0
367,0 3,0
1,0 314,0
368,0
Jumlah 36,6 0,0 0,0 0,0 36,6 282,2 358,3 0,0 0,0 0,0 358,3 678,0 4,0 682,0

Tabel Luas Tambah Serangan, Keadaan Serangan dan Luas Pengendalian Serangan OPT Tanaman Hortikultura di Propinsi Sumatera Utara.
Musim Tanam : 2010
Komoditi : Kubis

ULAT CROPS (Crocidolomia binotalis)
Kab/Kodya Luas tambah serangan Kum. Luas keadaan serangan Luas Pengendalian
R S B P J 15/08 R S B P J Pes Cl jmlh
Kodya Medan
Langkat
Deli Serdang
Sergai
Simalungun
Labuhan Batu
Asahan
Tanah Karo
Dairi
Tap. Utara
Tap. Tengah
Tap. Selatan
Toba Samosir
Samosir
Madina
Nias
Tebing tinggi
Kodya Binjai
Pem. Siantar
Tanjung Balai
Pakpak Barat
Hum.Hasndtn
Kota Pd. SP
Batubara 0,0
0,0
0,0
0,0
2,6
0,0
0,0
13,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
2,6
0,0
0,0
13,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
49,8
0,0
0,0
120,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
107,0
0,0
0,0
71,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
107,0
0,0
0,0
71,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
113,0
0,0
0,0
198,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
3,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
113,0
0,0
0,0
201,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,7
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
Jumlah 15,6 0,0 0,0 0,0 15,6 171,5 178,0 0,0 0,0 0,0 178,0 311,0 3,0 314,0


ULAT DAUN (Plutella xylostella)
Kab/Kodya Luas tambah serangan Kum. Luas keadaan serangan Luas Pengendalian
R S B P J 15/08 R S B P J Pes Cl jmlh
Kodya Medan
Langkat
Deli Serdang
Sergai
Simalungun
Labuhan Batu
Asahan
Tanah Karo
Dairi
Tap. Utara
Tap. Tengah
Tap. Selatan
Toba Samosir
Samosir
Madina
Nias
Tebing tinggi
Kodya Binjai
Pem. Siantar
Tanjung Balai
Pakpak Barat
Hum.Hasndtn
Kota Pd. SP
Batubara 0,0
0,0
0,0
0,0
9,5
0,0
0,0
11,0
0,5
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
9,5
0,0
0,0
11,0
0,5
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
43,0
0,0
0,0
67,0
0,7
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
119,1
0,0
0,0
60,0
1,2
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
119,1
0,0
0,0
60,0
1,2
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
123,0
0,0
0,0
234,0
10,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
1,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0 0,0
0,0
0,0
0,0
123,0
0,0
0,0
235,0
10,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
0,0
Jumlah 21,0 0,0 0,0 0,0 21,0 110,7 180,3 0,0 0,0 0,0 180,3 367,0 1,0 368,0

Batas Ambang Ekonomi
Pengambilan contoh pada pengamatan OPT tanaman sayuran dilakukan pada 10 tanaman contoh setiap 0,1 ha atau 50 tanaman contoh per hektar. Pengambilan tanaman contoh ditentukan secara akurat (random).
Untuk menilai serangan OPT yang menyebabkan kerusakan mutlak atau dianggap mutlak, digunakan rumus sebagai berikut:
I=a/(a+b) x 100%
Keterangan:
I = Intensitas Serangan (%)
a = banyaknya contoh (daun, pucuk, bunga, buah, tunas, tanaman rumpun) tanaman yang rusak mutlak atau dianggap rusak mutlak
b = banyaknya contoh yang tidak rusak (tidak menunjukkan gejala serangan)

Skala kerusakan yang dapat diukur adalah:
Ulat Daun Kubis 0 = Tidak ada kerusakan daun
Ulat Krop Kubis 1 = Kerusakan daun > 0 - ≤ 20 %
3 = Kerusakan daun > 20 - ≤ 40 %
5 = Kerusakan daun > 40 - ≤ 60 %
7 = Kerusakan daun > 80 %
Keterangan:
0 – 1 = Ringan
1 – 3 = Sedang
5 – 7 = Berat

Petunjuk PHT Untuk Tanaman Kubis
Kubis merupakan tanaman sayuran yang sangat mudah terserang hama dan penyakit, karena sangat peka terhadap iklim. Belajar dari pengalaman dari sejumlah petani kubis di daerah sentra produksi, upaya pengendalian hama dan penyakit berdasarkan konsep PHT merupakan cara dan langkah yang terbaik. Untuk melaksanakan PHT secara baik, ada 4 prinsip dasar yang perlu dipahami, yaitu:
1. Tanaman Budidaya Sehat
Cukup pupuk, pengairan, penyiangan gulma, dan pengolahan tanah pratanam yang baik merupakan dasar untuk memperoleh hasil produksi yang tinggi. Selain itu, faktor yang teramat penting adalah pemilihan varietas yang tahan akan penyakit dan hama serta mudah beradaptasi dengan jenis tanah dan iklim.
Ketahanan tanaman akan penyakit bergantung pada ketahanan tanaman terhadap infeksi dan perkembangan penyakit. Saat mengalami infeksi, tanaman yang kuat dapat mengatasi kerusakan yang terjadi. Bila kerusakan ditimbulkan oleh serangga, tanaman yang sehat dapat mengatasi kerusakan daun atau anakan dengan membentuk daun atau anakan yang baru, atau dengan pertumbuhan yang lebih kokoh pada anakan yang tidak rusak.
2. Melestarikan dan Mendayagunakan Fungsi Musuh Alami
Unsur alami merupakan kekuatan dahsyat yang mampu mengendalikan lebih dari 99% hama di kebanyakan lahan kubis adar berada pada jumlah yang tidak merugikan. Tanpa disadari sebenarnya hampir semua petani sangat bergantung pada kekuatan alami yang sudah tersedia pada lahannya sendiri. Kita mengetahui bahwa PHT berfungsi untuk mendayagunakan dan memperkuat peranan musuh alami yang menjadi jaminan pengendalian saat terjadi serangan hama. Pengurangan penggunaan pestisida berarti mendatangkan keuntungan ekonomis, kesehatan, dan lingkungan.
3. Pengamatan Lahan Mingguan
Kondisi ekosistem amat berkaitan dengan timbulnya masalah hama. PHT menganjurkan pengamatan lahan kubis secara mingguan oleh petanio sendiri untuk mengkaji masalah hama yang mungkin timbul dari keadaan ekosistem lahan yang cenderung berubah dan terus berkembang.
4. Petani Ahli di Lahannya Sendiri
Untuk mengelola lahan kubis secara baik, petani perlu memiliki keterampilan memantau lahan, menganalisis kondisinya, membuat keputusan, dan mengambil tindakan pengendalian hama secara tepat, praktis, dan menguntungkan.
Pengendalian Hama Terpadu membantu petani untuk mempelajari dan mempraktikkan keterampilan teknologi pengendalian hama. Hal ini sangat penting untuk mencapai sasaran pengelolaan agroekosistem yaitu hasil produk yang tetap stabil dan bebas residu.

C. Penerapan PHT Untuk Tanaman Kubis
1. Sebelum Tanam
Varietas
- Pemilihan varietas dan perlakuan benih untuk pertanaman merupakan langkah awal dalam pelaksanaan budidaya tanaman Kubis sehingga mutu benih berkualitas.
Waktu Tanam
- Setiap saat, tetapi untuk musim kemarau, serangan hama akan lebih banyak.
- Bibit sudah berumur kira-kira 3 minggu
Persiapan lahan
- 2 hari sebelum tanam, tanah yang sudah diolah mulai di bedeng-bedeng dengan ukuran bedengan 1 m. Bagian yang akan dibuat timbunan ini berguna untuk menutup pupuk kandang yang ditaburkan diatas bedengan.
- Tanah di atas bedengan harus benar-benar gembur. Untuk itu tanah olah harus dicangkul kembali sehingga bongkahan (lungko) menjadi lebih kecil.
- Tabur pupuk kandang di atas tanah, kemudian tutup dengan lapisan tanah setebal 10 cm.
Persemaian
- Dibuat petakan dengan ukuran 1 x 3 m, setinggi 30 cm.
- Campurkan pupuk kandang yang benar-benar matang kedalam petakan tersebut.
- Biarkan 3-4 hari supaya tanah terkena sinar matahari langsung. Bersihkan gulma yang mulai tumbuh.
- Pasang naungan dari daun pisang atau daun kelapa supaya tanaman tidak terkena sinar matahari atau hujan secara langsung.
- Pemeliharaan persemaian yang terpenting adalah penyiraman. Siramlah persemaian setiap pagi dan sore dengan menggunakan gembor yang halus. Atau alirkan air kedalam parit yang mengelilingi petakan. Jika terlihat ada serangan jamur, yaitu busuk pangkal batang, segera buang tanaman yan terserang.
Waktu Tanam
- Tanamlah bibit kubis yang sudah siap dari persemaian (setelah berumur 3-4 minggu) dengan jarak tanam 60 x 70 cm, dengan cara memasukkan benih kubis ke dalam lubang yang sudah dibuat, kemudian tutuplah dengan tanah.
- Berikan pupuk dasar 5 gram TSP/SP 36 dan 5 gram KCL per tanaman dengan cara ditugalkan di sebelah lubang tanam.
2. Setelah Tanam
Awal Pertumbuhan (0 – 15 hari)
- Setelah bibit ditanam di lapang, segera disiram dan diberi naungan, bisa dengan batang pisang, bisa juga dengan daun-daunan yang lain supaya tanaman tidak layu.
- Penyiraman dilakukan setiap sore sampai tanaman benar-benar hidup.
- Tanaman yang mati disulam.
- Pemupukan susulan dilakukan pada saat tanaman berumur 15 hari, 1 gram Urea pertanaman, dengan cara ditunggalkan 5 cm dari tanaman.
- Pengendalian hama secara mekanis “pithesan”, yaitu mengambil hama yang ada kemudian dipencet dngan jari.
Fase Pembentukan daun (15 – 35 hari)
- Penyiangan pada saat tanaman berumur 34 hari
- Penambahan 5 g urea/tanaman saat umur 35 hari.
- Pertumbuhan tanaman pada fase ini sangat penting karena akan mempengaruhi pertumbuhan selanjutnya.
- Pengendalian hama dengan cara “pithesan”
Fase Pembentukan telur/krop (35 – panen)
- Peka terhadap serangan penyakit dan ulat jantung kubis
- Pengendalian hama dengan cara “pithesan” , yaitu dengan mengambil hama yang ada kemudian dibunuh.
- Jika telur/krop kubis sudah keras dan masif, siap untuk dipanen.
Pengamatan
Dilakukan sesuai dengan lembar pengamatan. Cara pengamatan petunjuk umum.

3. Hama Tanaman Kubis
a. Ulat tritip/ulat daun (Plutella xylostella)
Ulat tritip memakan bagian bawah daun sehingga tinggal epidermis bagian atas saja. Ulatnya kecil kira-kira 5 mm berwarna hijau. Jika diganggu akan menjatuhkan diri dengan menggunakan benang. Ulat ini cepat sekali kebal terhadap satu jenis insektisida. Pengendalian dapat dilakukan dengn cara “pithesan” yaitu mengambili ulat yang terdapat pada tanaman kubis, kemudian dipencet sampai mati.
b. Ulat krop/jantung kubis (Crocidoomia binotalis)
Sering menyerang titik tumbuh sehingga disebut sebagai ulat jantung kubis. Ulatnya kecil berwarna hijau lebih besar dari ulat tritip, jika sudah besar garis-garis coklat. Jika diganggu agak malas untuk bergerak. Berbeda dengan ulat tritip yang telurnya dietakkan secara menyebar, ulat jantung kubis meletakkan telurnya dalam satu kelompok. Pengendalian sama dengan ulat tritip.
c. Ulat Grayak (Spodoptera Litura)
Ulat grayak juga mau menyerang kubis. Pengendaliannya sama dengan ulat tritip.
d. Ulat Tanah (Agrotis Ipsilon)
Ulat berwarna hitam. Gejala kerusakan yang ditimbulkan ialah terpotongnya tanaman kubis yang masih kecil. Pengendalian dapat dilakukan dengan membongkar tanah secara berhati-hati disekitar tanaman yang terpotong. Apabila serangan banyak, dapat digunakan karbofuran, furadan atau curater.

Berbagai cara dapat dilakukan dalam pengendalian hama kubis. Namun secara hukum berdasarkan Undang – Undang budidaya tanaman No. XII tahun 1992 pengendalian hama harus dilakukan secara terpadu (PHT), yakni mengurangi atau bahkan meniadakan pengendalian secara kimiawi kecuali pengendalian secara kultur teknis telah dilakukan terlebih dahulu dan penggunaan bahan kimia selalu berdasarkan ambang ekonomi setiap jenis hama. Cara – cara pengendalian kultur tehnis yang dapat dilakukan antara lain:
1. Tumpang sari tomat dengan kubis. Dengan menanam tomat terlebih dahulu, diharapkan aroma tanaman tomat tidak disenangi oleh ngengat Plutella xylostella. Cara dan jarak tanam dapat diatur berselang seling dengan populasi kubis sebagai tanaman pokok harus lebih banyak dibanding tomat.
2. Pengaturan waktu tanam, perlu disesuaikan pada setiap daerah berdasarkan pada musim kemarau dan musim penghujan karena didaerah tertentu pada musim hujan umumnya serangan P. xylostella dan C. binotalis tidak terlalu berat, bahkan bisa terhindar.
3. Pengendalian secara mekanik, dengan mengumpulkan kelompok telur kemudian dimusnahkan, dan penggunaan mulsa.
4. Penanaman tanaman perangkap dan musuh alami, yaitu dengan menanam famili kubis – kubisan seperti sawi atau kenikir untuk pengembangan parasitoid Diadegma sp sebagai musuh alami yang dapat memparasit larva. Setelah melakukan pengendalian dengan teknis budidaya tersebut diatas dan masih ditemukan populasi dan serangan hama yang merugikan maka penggunaan insektisida dapat dilakukan dengan berdasarkan Ambang Kendali ( AK) dari hasil pengamatan pada 10 sampel tanaman tiap 0,2 Ha tanaman atau 50 sampel per hektar tanaman yang diambil secara diagonal ataupun bentuk U pada hamparan pertanaman dengan nilai AK sementara sebagai berikut: Ulat daun 5 ekor larva per 10 sampel. Ulat krop 3 kelompok telur per 10 sampel. Bila setelah melakukan pengamatan ditemukan populasi seperti tersebut diatas maka pengendalian dengan insektisida dapat dilakukan, tetapi untuk menjaga kelestarian musuh alami khususnya Diadegma semiclausum dianjurkan menggunakan insektisida selektif yang berbahan aktif bakteri ( insektisida mikroba ) antara lain Dipel, Thuricide, Bactospeine, Turex dan sebagainya atau insektisida kimia dengan bahan aktif Sipermetrin ( Cymbush 50 EC, Fenom 50 EC) , Klorfuazuron ( Atabron 50 EC ), Kartap Hidroklorida ( Padan 50 SP ), Imidakloprid ( Winder 25 WP ) dan sebagainya. Untuk menghindari terjadinya resistensi atau kekebalan pada hama ulat daun dan ulat krop perlu dilakukan pergiliran penggunaan kelompok bahan atau jenis insektisida.
Adapun cara pengendalian beberapa hama dan penyakit kubis dengan konsep PHT dapat dilakukan sebagai berikut : Untuk pengendalian hama ulat krop kubis yang disebabkan (Crocidolomia binotalis Zell) dapat dilakukan dengan cara mengumpulkan (memusnahkan) telur, larva atau imago yang ditemukan. Pengendalian secara kimiawi dapat dilakukan bila ditemukan 3 paket telur pada 10 tanaman dan 5 % tanaman terserang hama tersebut. Pengendalian kimia cara tersebut dapat menghemat/menekan penggunaan pestisida 7 – 11 kali penyemprotan. Pemilihan bahan aktif insektisida dilakukan dengan selektif dan yang efektif diantaranya Bacillus thuringiensis (Turex, Thuricide), sipermetrin (Cymbush), Klorfluazuron (Atabron), lufenuron (Match), Lamda sihalotrin (Matador), Protiofos (Tokuthion) dan lain-lain. Selain itu dapat juga digunakan pestisida nabati atau biologi dengan dosis anjuran adalah : Bacillus thurigiensis, biji sirsak atau dengan menggunakan biji nimba 30 gr/liter.
Untuk pengendalian hama ulat kubis Plutella xytostella dapat dilakukan dengan cara mekanis dan kimia. Cara mekanis yaitu dengan memusnahkan dan mengumpulkan semua larva imago yang ditemukan, sedangkan cara kimiawi dilakukan dengan penggunaan pestisida selektif bila ditemukan 5 larva setiap 10 tanaman dan 5% dari jumlah tanaman telah terserang hama tersebut. Dengan melakukan pengamatan, maka akan menghemat penggunaan pestisida 7 – 11 kali penyemprotan dengan dosis 0,5 – 1cc/liter tiap penyemprotan.
Pengendalian penyakit bengkak akar yang disebabkan oleh jamur Plasmodiophora brassicae yang ditandai daun-daun kubis layu, bila tanaman tersebut dicabut pada akarnya akan terlihat ada pembengkakkan. Untuk mengendalikannya dapat dilakukan antara lain sebagai berikut :
(1) penggunaan varietas tahan P. brassicae seperti 72754, G6-voloqod shajas, Zimjaja dan Winter.,
(2) perlakuan benih dengan pestisida nabati berupa ekstrak daun/umbi bawang putih (8%) selama 2 jam,
(3) tanah untuk persemaian menggunakan tanah dari luar daerah endemis atau tanah lapisan bawah (min. 40 cm) yang dikukus atau diberi fungisida,
(4) melakukan pengapuran dengan dolomit 2 ton/hektar dilakukan 15 hari sebelum tanam
(5) tanah diinokulasi dengan Gliogladium (Bio GL) dosis 11 cc/liter atau Glio kompos 1 kg/4 meter2 sehari sebelum tanam atau Dazomet 30-40 gram/m2 (200-267 gram/ha) 2 minggu sebelum tanam,.
(6) mencabut tanaman muda yang terserang dan memusnahkannya kemudian
(7) memusnahkan segera sisa panen
D. Keuntungan Pendekatan PHT
Penerapan pendekatan ini pada tanaman kubis mendatangkan keuntungan yang cukup signifikan, di antaranya:
1. Menjaga Aspek Stabilitas Produksi
Kubis merupakan salah satu komoditas unggulan Sumatera Utara dengan prospek pasar yang potensial baik domestik maupun ekspor. Pendekatan PHT menawarkan metode pengelolaan agroekosistem yang menunjang stabilitas produksi.
2. Aspek Ekonomi
Penggunaan sistem PHT pada umumnya dapat mengurangi penggunaan pestisida pada tanaman kubis jika dibandingkan dengan pertanian konvensional. Bila PHT dilaksanakan sepenuhnya, pengeluaran negara untuk subsidi pestisida setiap tahunnya dapat dihemat 50-100 juta dollar (Departemen Pertanian, 1998).
3. Aspek Kesehatan
Pestisida yang lengket pada tanaman kubis biasanya meninggalkan residu yang cukup besar, apalagi bila mengingat intensitas penyemprotan yang bisa mencapai 20-30 kali tiap musim tanam di daerah sentra produksi. Saat kubis tersebut dikonsumsi, maka residu pestisida akan terakumulasi di tubuh konsumen.
Pada dosis tertentu, penumpukan pestisida di dalam tubuh amat berbahaya bagi kesehatan, sebab bahan kimia penyusun pestisida adalah racun yang keras. Dalam jangka panjang, akumulasi bahan kimia itu akan menyebabkan kanker dan janin yang cacat.
Cara terbaik mengurangi dampak pestisida adalah dengan mengurangi kontak. Pemerintah telah mengeluarkan anjuran pengurangan penggunaan pestisida melalui Inpres No. 3/86 yang intinya menekankan penggunaan pestisida seminimal mungkin kecuali saat benar-benar dibutuhkan.
4. Aspek Lingkungan
Penggunaan pestisida untuk membunuh hama dan penyakit seringkali juga membunuh organisme lain di dalam ekosistem. Bila organisme yang mati adalah organisme yang menguntungkan bagi pengendalian hama, maka bisa terjadi serangan hama yang lebih hebat. Keadaan ini dapat terjadi karena terganggunya keseimbangan ekosistem yang ada. Sayangnya, penumpukan pestisida dalam ekosistem menimbulkan pencemaran lingkungan yang tidak dapat dilihat dan dirasakan secara langsung oleh masyarakat.
Jadi, kita dapat menyimpulkan bahwa PHT merupakan perwujudan anjuran pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang berwawasan lingkungan dengan mengandalkan keterpaduan teknologi teruji dan keterampilan serta kemampuan para petani itu sendiri.

Faktor Pendukung dan Penghambat penerapan PHT
Faktor pendukung : Para petani yang bersemangat meningkatkan taraf hidupnya melalui bertanam sayuran yang bebas pestisida
Faktor penghambat : Pemerintah yang tidak berkomitmen serius untuk meningkatkan taraf hidup petani sayuran, antara lain ditunjukkan dengan harga jual sayuran yang tidak stabil sehingga cenderung merugikan petani dan melemahkan sisi ekonomi petani, serta kurangnya menajemen waktu dari petani karena banyak hal yang menjadi faktor kesibukan bagi petani.

BAB IV
KESIMPULAN

Kesimpulan
PHT merupakan perwujudan anjuran pembangunan pertanian tanaman pangan dan hortikultura yang berwawasan lingkungan dengan mengandalkan keterpaduan teknologi teruji dan keterampilan serta kemampuan para petani itu sendiri.
Dari data diperoleh bahwa pada komoditi Kubis ini terjadi luas tambah serangan Ulat Crops seluas 15,6 ha (ringan) yang terdapat di Kabupaten Simalungun 9,5 ha, Karo 11 ha, Dairi 0,5 ha.
Kubis merupakan tanaman sayuran yang sangat mudah terserang hama dan penyakit, karena sangat peka terhadap iklim, upaya pengendalian hama dan penyakit berdasarkan konsep PHT merupakan cara dan langkah yang terbaik.
Salah satu penerapan PHT pada tanaman Kubis adalah Tumpang sari tomat dengan kubis. Dengan menanam tomat terlebih dahulu, diharapkan aroma tanaman tomat tidak disenangi oleh ngengat Plutella xylostella. Serta pemakaian pestisida nabati.
Saran
Diharapkan dalam penerapan Pengelolaan Hama Terpadu, dilaksanakan penyuluhan bagi para petani misalnya melalui Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) agar penerapan PHT dapat berjalan efektif dan efisien.

BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Pracaya. 2001. Kol alias Kubis. Penebar Swadaya, Jakarta.
Tim Penulis PS. 1993. Sayur Komersial. Penebar Swadaya, Jakarta.
Oka, I. N., 1995. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Rubatzky, Vincent E. dan Mas Yamaguchi, 1998. Sayuran dunia 2. Bandung : ITB Bandung.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar